Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 7 Final

Wednesday, July 5th 2017. | Pendidikan

Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 7 Final ini adalah akhir dari ulasan bentuk pengamatan dari rekan Setyawan. Silahkan dibaca dahulu untuk seri mulai dari awalnya seri pertama.

Berikut uraian gambaran (sangat umum) tentang ketiga hal yang saya maksud pada seri sebelumnya :

Pendidikan

Menurut saya, tidak bisa tidak, yang tak bisa diabaikan ketika memahami KMPA adalah aspek pendidikan. Itu yang saya pahami tentang KMPA; bahwa ia adalah salah satu ruang potensial untuk pendidikan (atau mendidik diri).

Pendidikan juga menjadi salah satu hal di KMPA yang bahkan telah sejak mula telah disampaikan di Pembukaan AD/ART-nya. Kita tahu, di AD/ART disampaikan bahwa salah satu harapan/tujuan lahirnya KMPA adalah ”membentuk insan-insan”; sebuah poses yang hanya bisa dilakukan dengan jalan pendidikan.

Saya sendiri tak pernah berharap terlalu muluk terkait terma ”pendidikan” di konteks KMPA ini. Ya, benar, di Pembukaan AD/ART memang disebutkan bahwa apa yang ingin dicapai terkait ”pembentukan” itu adalah lebih pada lahirnya ”insan-insan yang cinta, peduli dan bertanggung jawab terhadap alam”.

Karenanya apapun yang dilakukan di ranah organisasi KMPA, mestinya dalam konteks mendidik setiap anggotanya untuk menjadi lebih berpihak kepada alam/lingkungan. Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 7 Final.

Mungkin saja bahwa capaian idealnya adalah semacam para kader pelestari alam,  atau aktor-aktor utama pencerahan sosial di bidang konservasi, penjelajah yang berani, pendaki gunung yang mumpuni, dan lain sebagainya.

Tapi terus terang, saya sendiri – sebenarnya – selalu ingin memaknai proses pendidikan di KMPA ini dalam konteks yang bisa lebih meluas. Jalan hidup manusia begitu kompleksnya. Tak semua orang mampu mewujudkan harapan dan cita-citanya.

Maksud saya, tak semua orang juga (walaupun dia pernah berproses di sebuah organisasi PA) akan berkarya di bidang-bidang konservasi lingkungan atau pelestarian alam (dalam arti khusus).

Tapi andai pun cita-cita (orang/organisasi) itu tak tercapai, setidaknya semoga apa yang didapatkan seorang (anggota) selama berproses di KMPA itu menjadi nilai tambahnya sebagai manusia.

Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 7 Final

Dengan kata lain, mestinya keterlibatan seseorang di KMPA akan memberi dampak pada proses penyempurnaan orang (anggota) tersebut; menjadi lebih baik, lebih toleran, lebih paham tata kerja, lebih bertanggung jawab, lebih dewasa, dan banyak lagi hal positif.

Syukur-syukur nantinya bisa dikontekskan dengan alam/lingkungan – sebagaimana harapan organisasi. Karenanya sering saya menyebut; rugilah ketika kita berproses di sebuah organisasi (KMPA), namun kita tak menemukan hal-hal yang bisa menyempurnakan diri kita.

Apalagi kita paham bahwa ruang di mana KMPA bertumbuh adalah kampus. Bahkan keanggotaannya pun menyaratkan kaitan dengan kampus. Maaf bila saya agak konvensional, tapi saya selalu memandang kampus (juga jenjang pendidikan lainnya) adalah ”dunia antara” menuju kehidupan riil.

Jadi seperti banyak orang kuno, saya memandang bahwa yang terpenting selama di kampus adalah ”penyiapan” untuk bertumbuh di luar kampus (nanti). Pada dataran ini, menurut saya, posisi KMPA sebagai ruang belajar dan penyiapan jadi semakin menemukan relevansinya.

Menurut saya, berdasarkan proses yang saya alami di KMPA, aspek pendidikan di KMPA ini memang ada; KMPA adalah salah satu ruang yang potensial untuk menyempurnakan diri.

Bisa saja apa yang saya rasakan ini tak dirasakan oleh kawan lain; setiap manusia memiliki kisahnya masing-masing. Tapi saya sendiri selalu merasa belajar banyak dari waktu berproses saya di organisasi ini.

Konservasi Alam/Lingkungan

Sejujurnya, pemahaman saya tak mendalam terkait terminologi ”konservasi alam/lingkungan” ini. Bisa jadi apa yang saya sampaikan ini tak tepat. Tapi gampangnya, saya memaknai konservasi alam/lingkungan ini sebagai segala aktivitas untuk menjaga atau malah mengupayakan alam/lingkungan menjadi lebih baik.

Artinya, konservasi yang saya pahami ini senantiasa bermakna proses/aktivitas. Konservasi alam/lingkungan ini menjadi pengejawantahan azas dan cita-cita organisasi. Menurut saya, konservasi alam/lingkungan ini pun penanda eksistensi KMPA.

Gampangnya, inilah penanda identitas sebenarnya dari KMPA di ranah riil. Maka idealnya, segala aktvitas yang ada dalam hidup organisasi ini (apapun itu) memang selalu diarahkan ”dalam rangka” konservasi alam/lingkungan.

Saya pikir, dengan imajinasi paling liar pun, kita tak akan punya gambaran lain; bahwa alam/lingkungan yang disebut di dasar hukum KMPA memang mestinya merujuk pada hal-hal semacam hutan, gunung, air, sungai, laut, dan semua hal yang berada ”di luar manusia”.

Namun saya sungguh ingin berharap bahwa pemahaman tersebut kemudian tidak sampai membatasi interpretasi kita dalam hal mencari ruang untuk berperan. Maksud saya, alangkah baik seandainya pemahaman terkait alam/lingkungan ini juga merasuki wilayah-wilayah kehidupan kemanusiaan.

Dan saya bersyukur bahwa sedikit banyak, hal tersebut sebenarnya juga ada di KMPA. Sepengetahuan saya KMPA tak meninggalkan tradisinya sebagai salah satu motor kegiatan-kegiatan yang berwarna kepedulian sosial; donor darah, aksi kepedulian saat bencana alam, dll.

Kembali pada permasalahan ”Konservasi alam/lingkungan”, buat saya, yang selalu menarik untuk dikaji adalah pada dataran implementasi/wujud aktivitasnya; Apa yang bisa dilakukan KMPA (dan orang-orang di dalamnya) ?

Selama ini, konservasi lingkungan/alam ini dimaknai hampir seragam oleh setiap organisasi PA. Maka kegiatan-kegiatan PA untuk konservasi ini pun hampir seragam;  tanam pohon, bersih sungai, bersih pantai, dan semacamnya. Bahkan kalaupun toh ada kegiatan diskusi lingkungan, selalu saja sebatas teori-teori konservasi dan semacamnya.

Semua itu baik adanya. Namun di luar hal yang standar tersebut, alangkah bagus seandainya ada hal lain yang jadi semacam peneguh nilai tawar. Maksud saya, alangkah akan hebatnya bila masing-masing organisasi PA (di Unsoed atau di Purwokerto) ini memiliki ”nilai lebih”nya masing-masing.

Dulu, seringkali saya membayangkan, alangkah akan bagusnya andai KMPA mengoptimalkan apa yang mestinya jadi potensi bawaannya. Kita tahu, KMPA bertumbuh di Fisip. Anggota-anggotanya adalah orang-orang yang berkubang dalam kajian-kajian sosial-politik-budaya.

Idealnya, kemampuan dalam kajian sosial-politik-budaya (baik teori, wacana, analisis, maupun praksis) adalah kekuatan KMPA untuk berperan lebih pada gerak besar konservasi lingkungan (lokal atau nasional).

Kalaupun ini terlalu muluk, yang terpenting adalah mengusakan berlatih. Maksud saya, saya pikir akan sangat bagus bila kegiatan KMPA (apapun itu), selain diarahkan untuk hal-hal bersifat konservasi alam/lingkungan (dalam pengertian yang standar dan umum), juga mulai disisipi perspektif yang lebih berwarna kajian sosial-budaya-politik.

Sayangnya, dulu, saya dan kawan-kawan (semasa saya) gagal menemukan (dan mengusahakan) hal semacam ini di KMPA. Rasanya, tak banyak kegiatan semacam itu bisa direalisasikan di organisasi ini (dulu). Ada memang satu-dua, tapi jelas tak pantas dibanggakan.

Saya tak paham dengan KMPA di era sekarang. Semoga jauh lebih baik dibandingkan masa ketika saya aktif berproses. Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 7 Final.

Persaudaraan

Sebenarnya saya agak khawatir ketika menyebut tentang persaudaraan di sini (di KMPA), sebab rentan disalahpahami. Saya tak tertarik memahami persaudaraan sebagai kondisi yang taken for granted; Karena Kita Seorganisasi, Maka Kita Bersaudara.

Persaudaraan yang saya pahami di KMPA adalah persaudaraan yang lahir dari kerja/proses: Karena Kita Berorganisasi, Maka Kita Bisa Jadi Saudara. Artinya, kita menjadi memiliki rasa terikat dengan yang lain karena pernah ada proses yang pernah dijalani bersama.

Atau setidaknya ada niat, mimpi, dan harapan bersama yang ingin diwujudkan, dan dibuktikan dalam laku-laku yang konkret. Di dalamnya selalu ada kesediaan untuk mengupayakan terlibat/mengalami proses.

Dari proses bersama itulah, kita akan tahu kelebihan dan kekurangan orang lain. Dari proses bersama, kita juga akan tahu bahwa selalu ada kondisi di mana setiap subjek sebenarnya bisa saling melengkapi. Maka tumbuh pengertian dan penghargaan.

Lebih-lebih, saya tak ingin memahami persaudaraan ini sebagai mitos baru, di mana manusia-manusia yang terikat di dalamnya jadi harus serba seragam dan menganggap konflik sebagai tabu. Perbedaan pendapat/gagasan/ide, itu pun sebuah kondisi yang lumrah mengingat manusia memang tercipta unik dari mulanya.

Sejauh semua masih dalam kerangka organisasional, semua masih bisa diterima. Mungkin malah bisa memperkaya.
Bagaimanapun, saya selalu berusaha melihat KMPA sebagai organisasi mendahului KMPA sebagai keluarga. Maksud saya, pada prinsipnya KMPA adalah organisasi.

Kalaupun dalam perjalanannya orang-orang yang terlibat didalamnya ternyata jadi akrab seperti keluarga, itu anggaplah sebagai hadiah.

Buat saya, selalu mencurigakan menerima ’persaudaraan’ sebagai sesuatu yang seakan terberi, seolah-olah segalanya telah jadi. Persaudaraan di KMPA adalah kondisi yang mesti diupayakan. Di KMPA, pengupayaan terbaik adalah melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam ranah organisasional. Lebih-lebih kita paham bahwa ranah KMPA berkegiatan memang menuntut dan potensial menumbuhkan rasa persaudaraan antar-subjek di dalamnya.
Dalam konteks pengalaman saya, saya menganggap bahwa persaudaraan adalah salah satu hal yang saya dapatkan di KMPA. Dengan segala kurang dan lebihnya, saya menemukan banyak saudara di ruang kecil ini.

Penutup

Maaf, bahkan sampai menjelang berakhirnya tulisan ini pun, ternyata tak ada jawaban apapun terkait ”roh”. Saya benar-benar tak paham akan hal itu. Tentang roh itu, andai ada, saya masih berharap dan menunggu ada kawan lain yang akan menguraikannya.

Dan sesuai perkiraan, tulisan ini jadi sangat-sangat panjang. Bisa jadi ada banyak kontradiksi di dalamnya. Bisa jadi ada banyak hal yang layak dibantah atau dimentahkan. Bisa jadi malah semuanya pantas diabaikan. Semua serba mungkin.

Sejak mula, tulisan ini memang sekadar upaya subjektif, tentu sangat mungkin terdapat celah. Lebih-lebih, sejak awal tulisan itu saya niatkan jadi semacam awalan bagi proses-proses selanjutnya untuk mencoba lebih memahami dan memaknai KMPA.

Saya berharap nantinya akan ada ide-ide yang lebih komprehensif, yang lebih matang, mungkin juga lebih mencerahkan, dari semua kawan yang masih terlibat dalam organisasi bernama KMPA.
Salam…

Penulis oleh :

Setyawan
NA. KMPA 153/XIII/1999

Terimakasih untuk rekan semua telah membaca informasi iini tentang suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 7 final mulai dari seri pertama. Salam sukses dunia pendidikan Indonesia.

tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*