Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 6

Wednesday, July 5th 2017. | Pendidikan

Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 6 juga melanjutkan dari seri sebelumnya. Beberapa seri sebelumnya adalah sebagai berikut, seri pertama, kedua, ketiga, keempat, dan seri kelima. Baca selengkapnya di bawah ini.

Selanjutnya…

Selanjutnya adalah upaya pembacaan lebih jauh. Saya selalu berusaha sesederhana mungkin memahami berbagai hal, sebab pada dasarnya otak saya sederhana.

Menurut saya, segala yang bernama organisasi, tak akan lepas dari unsur-unsur utamanya : manusia, persamaan (niat/tujuan/cita-cita/kehendak), aturan ( atau kesepakatan), dan bagaimana hal-hal itu berkelindan.

Dan di organisasi formal, mutlak  ada nuansa hak dan kewajiban yang melekat pada subjek-subjek yang terlibat di dalamnya. Bahkan – seingat saya – pernah saya menyebut (di KMPA) bahwa organisasi adalah juga sebentuk ”kontrak sosial” juga.

Terkait hak dan kewajiban ini, barangkali agak lebih mudah dilacak. Di KMPA, semua menyangkut hak dan kewajiban anggtao relatif jelas di aturan tertulisnya.

Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 6

Namun kita tahu, aturan tertulis juga senantiasa memiliki sisi lemahnya sendiri. Ada perkembangan kebahasaan/ejaan yang tak selalu bisa diikuti oleh sebuah teks tertulis. Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 6 ini merupakan seri menjelang akhir dari si penulis.

Jadi kadang kita akan temukan pernyataan-pernyataan yang terasa wagu di mata pembacanya, yang mungkin terlahir berbeda generasi dari saat sebuah aturan tertulis dirumuskan. Dari sisi ini, mulai tampak celah yang ada.

Sebenarnya ini bukan tak bisa dipecahkan, tentu saja bila ada kemauan untuk mencoba memahami. Masalahnya, berapa banyak yang benar-benar ingin memahami sebuah aturan di KMPA ? Lebih-lebih bila aturan tertulis itu jarang sekali dibaca (Bagaimana mau dipahami, wong dibaca saja tidak…).

Masalah akan bertambah ruwet ketika  sudah memasuki ranah tafsir. Kita tahu, teks senantiasa membuka kemungkinan lahirnya beragam makna. Selalu ada kemungkinan bahwa teks dimaknai sekadar berdasar ”suka-suka saya”.

Di satu sisi – menurut saya – hal itu justru bagus, karena mungkin bisa memperkaya wacana/pemahaman setiap orang (yang mau berwacana). Namun di sisi lain, terlalu cairnya pemaknaan itu tak jarang berujung blunder. Sebab cairnya pemaknaan tak hanya berarti dinamis, namun juga memuat potensi ”tanpa pegangan”.

Jalan tengah paling sehat sebenarnya adalah adanya semacam bagian penjelasan di sebuah aturan, sehingga teks tetap bisa dimaknai (berdasar perkembangan gagasan), namun proses pemaknaan itu pun tidak ngawur-ngawur amat (karena ada penjelasan). Sayangnya, di AD/ART KMPA memang tidak terdapat bagian penjelasan.

Lebih-lebih, jika kita pahami bahwa proses pemaknaan selalu terkait dengan kapasitas subjektif pemberi makna. Baiklah, di KMPA, lupakan dulu soal kualitas personal penafsir teks.

Bahkan sekadar mencari siapa yang mau mencoba menafsirkan saja, kadang masih merupakan persoalan. Berdasarkan apa yang pernah saya alami di KMPA, dalam konteks kajian terkait aturan, selalu lebih banyak yang pasif daripada yang aktif.

Akibatnya, tak jarang eksplorasi jadi kurang memadai – karena minimnya yang terlibat. Yang kemudian sering sekali terjadi adalah perubahan isi AD/ART hanya karena alasan yang sebenarnya tak terlalu substansial.

Belum lagi masalah klasik: mereka yang senior  dan (atau) yang dominan di forum (pembahasan) selalu memiliki kemungkinan lebih besar untuk menyajikan pemahaman tunggal, walaupun sebenarnya mungkin dangkal.

Ini sebenarnya kondisi yang normal/ wajar; yang dominan akan memimpin. Sayangnya, tak setiap kepala berani mengkaji/mempertanyakan ulang; telah benar tepatkah penafsiran yang ada ?

Tak jarang yang muncul adalah semacam kepatuhan buta; setiap pendapat dari yang lebih senior (kadang malah ALB) atau yang dianggap pintar seakan sudah pasti benar. Lebih memprihatinkan, ”para penerus” ini seperti tak memiliki energi lagi untuk berani memahami atau bahkan untuk sekadar membaca aturan-aturan.

Cukuplah ada semacam ”fatwa” dari pribadi yang dianggap mumpuni, itu cukup. Proses belajar terhenti. Dialektika pun mati.

Memahami yang Tak Terjelaskan

Bila untuk hal yang tertulis (tersurat) saja telah menerbitkan soal, lebih-lebih lagi untuk hal-hal yang sejak mula memang tak mudah dijelaskan. Kita paham, sebuah entitas sosial (juga KMPA) tak melulu berisi hal-hal yang tampak. Selalu ada hal-hal yang tak tampak.

Misalnya, terkait aspek-aspek emosional, nilai-nilai, juga – mungkin saja – ideologi. Dalam konteks KMPA, bagaimanakah segala hal ”yang tak tampak” itu dijelaskan ?

Karena kebetulan kita terlibat di sebuah organisasi formal, maka tidak bisa tidak, dokumen formal adalah sumber utama. Dalam hal KMPA, maksud saya adalah AD/ART. Sayangnya, sebagaimana kita pahami bersamaAD/ART yang ada di KMPA ini kurang memberi kemudahan karena tak ada penjelasan yang memadai.

Lebih-lebih bila kita ingat, AD/ART yang ada ini pun – konon – telah banyak mengalami perubahan. Pertanyaannya selalu sama; bisakah AD/ART yang sudah mengalami perubahan ini kita jadikan rujukan memahami nilai-nilai dasar/semangat/cita-cita yang biasanya justru penting pada saat berdirinya sebuah organisasi ?

Kadang-kadang ada juga pertanyaan; ketika saya terlibat di organisasi seperti KMPA ini, apakah persoalan AD/ART yang sudah berubah beberapa kali ini menjadi persoalan penting ?

Sebenarnya, dari sisi organisasional, kalau mau praktis, hal tersebut bukan persoalan yang penting-penting amat. Misal pun saya membaca dokumen AD/ART awal KMPA itu, lantas apa yang berubah ? Nyaris tak ada.

Saya tetap saja akan menjadi anggota KMPA yang sekarang (maksud saya, ”sekarang” ini ya sejak sewaktu saya masih kuliah). Sebagai anggota organisasi, cukuplah saya berpegang pada aturan terbaru tentang hak dan kewajiban saya. Saya pikir itu lumayan memadai.. Dan semua akan baik-baik saja…

Menjadi persoalan justru karena (dulu, bahkan hingga sekarang…) begitu sering saya mendengar dari kawan (generasi yang sudah-sudah) bahwa ada nilai-nilai yang semestinya diwariskan, ada sejarah yang mestinya dipahami, bahkan beberapa kawan menyebut ada semacam ”roh” yang mesti selalu dihidup-hidupkan..

Lebih-lebih menjadi persoalan karena dari beberapa suara yang ada (dulu, bahkan hingga sekarang…), terkesan masa lalu organisasi ini begitu gemilang, dengan cerita-cerita yang mungkin memang layak dibanggakan. Artinya, kondisi terkini adalah kondisi degradasi. Dan karenanya layak mengundang kesedihan…

Fakta-fakta tersebut dulu (dulu, tapi tak sekarang…), mengharuskan saya bertanya, mungkin dengan nada tak terima; Memang KMPA yang dulu seperti apa, sih ? Terus yang sekarang seperti apa ? Nilai-nilai yang disebut-sebut itu seperti apa ?

Terus yang sekarang seperti apa ? Mengapa dirasa ada perubahan, atau bahkan degradasi ? Di mana letak soalnya..?
Pertanyaan itu tentu tak bisa dijawab semata berdasar dongeng-dongeng. Sayangnya, tak banyak sumber yang  bisa dirujuk.

Semua lebih banyak bersandar pada dongeng, cerita, mungkin juga mitologi. KMPA memang seperti ditakdirkan menjadi organisasi yang lekat dengan mitos dan romantisme…

KMPA Menurut Saya

Pada akhirnya, setiap kita yang terlibat di KMPA memang mesti mencari dan berproses, sendiri atau bersama dengan kawan-kawan, untuk lebih berkembang dari waktu ke waktu. Saya pun demikian. Anda juga mungkin demikian.

Saya tak pernah ingin terlalu muluk memahami KMPA. Bukan karena ia tak berguna atau tak bermakna dalam proses hidup saya. Tapi saya kira, memaknai KMPA terlalu tinggi juga rentan melahirkan beban yang tak perlu dan jelas tak proporsional.

Di sini, sebagaimana yang saja janjikan pada bagian awal tulisan ini, saya akan mencoba memanfaatkan apa yang telah disampaikan oleh dua ALB organisasi ini; Bang Ginting (Satria Ginting) dan Kang Lukman (Lukman Hidayat).  Bang Ginting menyebut bahwa egaliter/egalitarianisme merupakan  harapan.

Sementara  Kang Lukman, menyebut bahwa hal dasar di KMPA adalah konservasi lingkungan. MenurutKang Lukman, konservasi lingkungan ini dimanivestasikan dalam tiga wujud :

1) Kepedulian dan keberpihakan pada lingkungan

2) Pergerakan berlandaskan pemikiran,

3) Solidaritas,

Saya sendiri melihat bahwa apa yang disampaikan Bang Ginting dan Kang Lukman sedikit banyak memiliki persinggungan (atau semacam irisan) dengan apa yang saya rasakan selama berproses di KMPA.

Sebagaimana telah saya sampaikan di bagian sebelumnya, pemahaman penting pertama yang saya pahami tentang aspek penting di KMPA adalah apa yang tersampaikan di azas organisasi ini; ”keberpihakan terhadap lingkungan”.

Kebetulan, saya tak mengalami kejadian perubahan azas, sehingga relatif tak ada pertentangan dalam pemahaman.  Hal ini semakin jelas ketika saya (atau kita (?)) melakukan pembacaan terhadap seluruh aturan yang ada di KMPA.

Intinya, saya sepakat dengan Kang Lukman bahwa kesadaran untuk terlibat/berpihak dan mengupayakan yang terbaik untuk alam/lingkungan adalah aspek inti yang menentukan keberadaan KMPA. Saya pikir, frasa yang ada di azas KMPA telah dengan relatif tepat menyampaikan inti dari KMPA ini.

Hal itulah yang yang membuat KMPA menjadi KMPA. Tanpa itu, tak ada KMPA.

Apakah itu yang (oleh benerapa kawan) dimaknai sebagai roh organisasi ? Entahlah.

Dalam hidup kesehariannya sebagai organisasi (atau entitas), menurut saya, KMPA mewujudkan dirinya pada tiga hal :

1) Pendidikan,

2) Konservasi Alam/Lingkungan, dan

3) Persaudaraan.

Tiga hal ini tak terpisahkan ketika saya memahami KMPA. Ketiganya seperti unsur-unsur anyaman yang saling menguatkan dan menyempurnakan sehingga KMPA memiliki eksistensinya sebagai organisasi.

Tanpa salah satunya, saya pikir akan ada yang tak lengkap di KMPA. Bahkan, mungkin secara agak hiberbolik; KMPA bukan lagi KMPA.

Jadi kalau dibandingkan dengan pendapat Kang Lukman, hanya ada sedikit hal berbeda yang coba saya kemukakan terkait KMPA :

1.    Kang Lukman menyebut bahwa Konservasi Lingkungan merupakan ”roh”/asas, sedangkan kepedulian dan keberpihakan terhadap lingkungan merupakan salah satu manivestasinya. Sementara saya lebih menyebut konservasi lingkungan sebagai salah satu perwujudan/manivestasi yang ada di KMPA.

Mungkin saja bahwa apa yang saya sebut sebagai ”Konservasi Lingkungan” ini malah lebih dekat kepada ”Pergerakan berlandaskan pemikiran” versi Kang Lukman.

2.    Saya menambahkan Pendidikan sebagai salah satu aspek utama KMPA
Sedangkan untuk aspek lainnya, Persaudaraan, menurut saya sedikit banyak memiliki pertalian dengan ”Solidaritas” yang disampaikan Kang Lukman tenta ”Egaliter/Egalitarianisme” menurut Bang Ginting.

Bersambung ke seri 7 final berikut ini tentang suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 6, silahkan baca berikutnya di SINI.

tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*