Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 5

Tuesday, July 4th 2017. | Pendidikan

Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 5 kelanjutan artikel sebelumnya. Yaitu pada bagian atau seri pertama, kedua, ketiga, dan keempat yang lebih baik Anda baca dahulu.

Pertanyaan selanjutnya; Apakah rumusan ”padat dan baku” itu memang  perlu ? Semisal Pancasila-nya Indonesia, Trisatya dan dasadarma-nya pramuka atau malah sapta pesona ? Nah… pertanyaan tentu bukan menjadi kapasitas pribadi saya untuk menjawabnya.

Sebab meski saya mungkin bagian KMPA, tapi KMPA jelas bukan saya. Jawaban atas pertanyaan itu semestinya dijawab oleh setiap subjek yang terlibat di organisasi ini.

Sekadar pendapat, sebenarnya, bila mau, dengan mencermati setiap aturan yang ada saat ini pun, setiap anggota mestinya bisa belajar banyak mengenai semangat/nilai/kesadaran/cita-cita dan lain-lain terkait KMPA.

Menurut saya, AD/ART KMPA bahkan bisa ”kitab rujukan” bila sekadar ingin tahu istilah-istilah yang barangkali menggambarkan nilai-nilai (atau karakter) ideal manusia yang berorganisasi PA – tinggal comot mana yang kita mau.

Namun rumusan yang lebih baku (andai ada) memang akan mempermudah dalam mengarahkan langkah dan pemahaman. Bahkan, pada batas tertentu, sebuah rumusan baku mungkin dapat menandai dan meneguhkan identitas.

Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 5

Sekali lagi, bila pun ada rumusan tersebut, bukan berarti mematikan dinamika wacana, sebab tafsir/pemaknaan selalu berkembang. Saya sendiri yakin bahwa pemaknaan serta implementasi sebuah nilai, semangat, dan kesadaran  senantiasa menyesuaikan dengan konteks ruang dan waktu.

Rumusan itu, andai ada, selalu terbuka untuk ditafsir/dimaknai ulang. Setidaknya, adanya sebuah rumusan baku akan cukup membantu ketika nantinya setiap anggota mencoba merujuk nilai-nilai/karakter/kesadaran apa yang sebenarnya (dan seharusnya) ada di KMPA.

Cerita Saya

Izinkan saya  bercerita. Saya terlibat menjadi bagian organisasi ini sejak 1999, sebagai bagian angkatan Diksar ke-XIII. Saya merupakan salah satu dari lima anggota yang dilantik di akhir Diksar tersebut.

Waktu itu, saya masuk organisasi tanpa didasari harapan serba wah.. yang barangkali lazim ada di benak kawan-kawan yang ingin mendaftar sebagai anggota organisasi Pecinta Alam (PA).

Bila mau dijelaskan, umumnya ada dua jenis ketertarikan sehingga seseorang bergabung ke sebuah organisasi PA. Pertama, tertarik karena sisi petualangan yang ditawarkan/diangankan (berikut segala romantismenya); mendaki gunung, menyeruak lembah, menyusuri pantai, camping, rock climbing, caving, atau semacamnya.

Kedua, tertarik oleh gagasan/ide. Mereka yang masuk dalam golongan kedua ini biasanya memang terlahir sebagai manusia-manusia dengan niat mulia; menyelamatkan semesta, melestarikan hutan, atau terlibat dalam aksi-aksi konservasi lingkungan.

Semuanya bagus, dan idealnya akan jadi energi yang nantinya membuat keterlibatan seseorang di organisasi PA menjadi lebih berarti.

Saya sendiri ? Terus terang, rasanya saya tak termasuk dalam dua gambaran itu. Apa itu suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 5 ?

Saya, setidaknya sepemahaman saya, tak terlalu memiliki karakter petualang; yang begitu merindukan jelajah dan pengembaraan ke wilayah-wilayah baru. Hal ini semakin kentara ketika bertahun saya berproses KMPA.

Ketika kawan-kawan dekat saya bersemangat menetapkan daerah baru untuk dijelajahi, gunung baru untuk didaki, saya tak merasakan gairah yang sama. Seingat saya, tak lebih dari dua puncak gunung yang benar-benar berhasil saya kunjungi (maaf, jangan berasosiasi macam-macam tarkait dua gunung ini).

Meski saya menyukai suasana pantai, suasana hutan dan pegunungan, saya tak pernah terlalu menganggap penting pertanyaan-pertanyaan semacam; Sudah mendaki puncak gunung mana saja ? Berapa ketinggiannya ? Dan lain lain…
Mungkin saja semua itu karena pada dasarnya saya memang payah.

Bagi saya, cukuplah ketika sekali waktu saya menikmati suasana gunung, hutan, pantai dan merasa menjadi bagian dari semua itu (tapi tidak suasana gua, saya tak pernah tertarik pada caving).

Kemudian belajar memahami segala yang ada padanya (keindahannya, kesunyian, juga tantangan dan bahayanya) sebagai bagian dari upaya membuat diri menjadi lebih baik. Barangkali bisa disebut bahwa saya sekadar Penikmat Alam… Ini masih PA juga, tapi tentu sangat berbeda nuansa dan muatannya.

Di sisi lain, saya pun tak terlalu tertarik bergulat dengan wacana maupun aktivitas terkait advokasi lingkungan. Kalaupun terlibat, bisa dikatakan ya.. sekadarnya sajalah.

Setidaknya, belum pernah terlintas sekalipun di benak saya bahwa suatu hari (nanti) saya akan berproses sebagai salah satu aktor utama aksi advokasi alam/lingkungan.

Dalam konteks konservasi lingkungan, saya hanya belajar hal sederhana, yang sebenarnya berwarna egoisme juga : hanya di lingkungan (dan/atau alam) yang berkondisi baik, manusia – termasuk saya – lebih punya peluang bertumbuh secara baik.

Jadi sebisa mungkin, ya.. lingkungan mesti dijaga, atau syukur-syukur membuatnya lebih baik sehingga hidup manusia juga membaik.

Bahkan setelah lepas dari proses bertahun-tahun di KMPA pun, dengan rikuh saya harus mengaku bahwa saya mentah di dua bidang yang lazimnya menjadi penopang utama sebuah organisasi PA; Konservasi  dan ORAB.

Saya tak paham tentang ORAB seperti juga saya tak paham teori-teori besar dan praksis terkait advokasi lingkungan.

Apa yang mendorong saya bergabung dengan KMPA waktu itu ? Saya hanya ingin belajar ”mengenal” organisasi, belajar laku kerja yang tertib dan terarah, menemukan teman, mengisi waktu, juga syukur-syukur menemukan ruang yang pas untuk lebih mengembangkan diri sebagai pribadi.

Yang barangkali agak aneh, mengapa justru KMPA? Organisasi yang – konon – lekat dengan segala hal berbau ”petualangan” dan ”pelestarian lingkungan” ini ? Tentang ini,  anggaplah sebagai semacam kecelakaan sejarah yang pada waktunya nanti toh ternyata saya syukuri.

Apakah saya anggota yang gagal? Ini pertanyaan standar. Saya akan merujuk pada ukuran standar: tata aturan. Saya berani mengatakan bahwa sebagai anggota, saya tak pernah gagal. Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 5 yang semakin mendekati akhir cerita.

Organisasi ini belum pernah menghukum saya. Dan saya tidak pernah mengundurkan diri (meski pernah  terpikir). Setidaknya, sampai hari ini saya masih tercatat sebagai anggota organisasi ini. Itu bisa jadi ukuran sederhana.

Apakah saya kader yang gagal ? Nah… Ini baru sebuah pertanyaan menarik. Saya juga telah lama memikirkannya. Sayangnya, memperhatikan semua aspek, terutama apa yang ada di dasar hukum organisasi ini, lebih mungkin saya memang termasuk Kader Gagal.

Seperti banyak proses saya di hal-hal lain, pembelajaran saya tentang KMPA rasanya tak berjalan semestinya. Idealnya, tahap mengenali sebuah organisasi (yang hendak kita libati) itu ya.. baca aturannya dulu. Kalau tidak sreg, ya jangan ikut-ikut.

Tapi kalau kira-kira cocok, bolehlah coba-coba masuk. Tapi proses saya di KMPA mungkin agak terbalik. Saya mendaftar, dilantik sebagai anggota, berproses beberapa waktu, dan kemudian baru menemukan aturan-aturannya.
Sebagaimana  telah saya sampaikan, pada awal proses, ada satu kali RUA yang tak saya ikuti.

Saya tak mengikutiya karena pada waktu-waktu itu, saya memang vakum dari aktivitas KMPA (ada masanya, saya sempat tak terlibat dalam kegiatan apa pun di KMPA).  Baru di RUA tahun kedua, saya bisa hadir sebagai peserta.
Berdasarkan cerita kawan-kawan, telah ada perubahan pada azas organisasi.

Saya sebut berdasarkan ”cerita kawan-kawan”, karena waktu itu memang saya tak mengecek kebenarannya, misalnya, dengan  membandingkan AD/ART lama dan AD/ART (hasil RUA terbaru). Pikiran saya, cukuplah ketetapan terakhir saja yang saya pahami sebagai pegangan ketika saya ingin memahami organisasi.

Toh, peraturan terbaru itulah yang nantinya eksis sebagai peraturan. Aturan-aturan lama (masa lalu) tak akan punya banyak arti lagi, jadi dokumen yang hanya akan bermanfaat bagi studi sejarah. Sementara, saya tak pernah sekalipun tertarik menjadi pengkaji sejarah KMPA.

Di satu sisi, pikiran semacam ini mungkin tampak merugikan, sebab berisiko tak terlalu memahami KMPA secara utuh. Namun bila dipikir-pikir, tidak membaca AD/ART lama itu ada bagusnya juga.

Setidaknya, sejak dari mula saya membaca aturan organisasi, azas organisasi KMPA ya hanya satu itu: ”Keberpihakan terhadap Lingkungan” (atau merujuk AD/ART hasil RUA 2007 adalah ”Keberpihakan terhadap lingkungan dan kebersamaan”).

Maaf bila saya terkesan mengabaikan terma ”kebersamaan”. Terus terang, di ingatan saya, bila menyebut azas KMPA ya itu; ”Keberpihakan terhadap lingkungan”. Frasa ”keberpihakan terhadap lingkungan” menjadi pemahaman penting pertama saya tentang KMPA.

Bersambung pada seri keenam di SINI untuk suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 5 untuk mengetahui hasil akhir dari tulisan ini. Tulisan ini muncul karena sebabnya adalah…bersambung.

tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*