Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 4

Tuesday, July 4th 2017. | Pendidikan

Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 4 adalah kelanjutan dari seri pertama, kedua dan seri ketiga yang dapat Anda baca terlebih dahulu. Agar selanjutnya Anda juga lebih mengetahui seluk beluk sebelumnya kenapa sampa tulisan ini muncul.

Azas Organisasi KMPA UNSOED

Berdasarkan cerita kawan-kawan, di salah satu RUA pernah ada keputusan yang – mestinya – sangat berpengaruh terhadap organisasi; terjadi perubahan azas organisasi, dari ”Pancasila” menjadi ”Keberpihakan terhadap lingkungan”.

Merujuk pada AD/AT hasil RUA tahun 2007 (saat ini, yang ada pada saya cuma itu), azas KMPA terbaru adalah ”Keberpihakan terhadap lingkungan dan kebersamaan.”

Saya sendiri agak lupa, adanya kata ”Kebersamaan”  di azas itu entah sejak di RUA tahun yang keberapa. Atau bisa jadi memang sejak awal (pada saat perubahan dari Pancasila) memang sudah begitu, tapi saya tak cermat dalam membacanya – saya jarang juga baca AD/ART.

Selama ini, ketika menyebut azas KMPA saya hanya ingat frasa ”Keberpihakan terhadap lingkungan” (lupa ada kata ”kebersamaan). Jadi kalau mau dirunut, setidaknya telah ada satu atau (mungkin) dua kali perubahan terkait Azas KMPA :

1.    Dari ”Pancasila” menjadi ”Keberpihakan terhadap Lingkungan”, atau
2.    Dari ”Pancasila” menjadi ”Keberpihakan terhadap Lingkungan dan Kebersamaan”, atau
3.    Dari ”Pancasila” menjadi ”Keberpihakan terhadap Lingkungan” dan kemudian menjadi ”Keberpihakan terhadap Lingkungan dan Kebersamaan”

suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 4

Bagaimana isi frasa ini bila dikaitkan dengan Pembukaan AD/ART ?

Bila ”Keberpihakan terhadap lingkungan” di sini dimaknai dengan ”perasaan terlibat, bertanggung-jawab, dan peduli terhadap nasib lingkungan”, maka saya tak melihat pertentangan antara apa yang dinyatakan di Azas dengan isi Pembukaan AD/ART.

Bisa saja saya yang kurang teliti. Tapi menurut saya, frasa ”Keberpihakan terhadap lingkungan” justru terasa lebih menegaskan apa yang memang diuraikan di Pembukaan AD/ART.

Kalaulah ada yang terasa agak janggal, mungkin justru penggunaan kata ”terhadap” (biasanya lebih bersejajar arti dengan perbandingan). Ada masanya, ketika saya menanyakan hal ini di forum RUA : Mengapa bukan menggunakan kata ”kepada” saja, yang lebih bermakna arah (pemihakan) ?

Tapi sebagaimana kita paham, forum RUA bukanlah forum yang senantiasa berada pada kondisi terbaiknya. Barangkali waktu itu juga akhirnya saya berpikir, ah sudahlah… yang penting ada persamaan persepsi/pemahaman. Bisa jadi ini efek dari populernya salah kaprah penggunaan bahasa (waktu itu).

Kita tahu, seorang mantan presiden bahkan seringkali menggunakan kata ”daripada”, meski kita tahu bukan itu maksud beliau. Lanjutkan untuk membaca hingga akhir tentang suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 4 ini.

Kesimpulan saya terkait Azas dan Pembukaan AD/ART adalah : Azaz yang ada (meski sudah diubah) ternyata tak bertentangan dan bahkan menegaskan isi (pernyataan) yang disampaikan di Pembukaan AD/ART.

Dari frasa yang ada di Azas, kita juga dapat menemukan setidaknya dua hal (mungkin nilai, mungkin karakter, mungkin cita-cita) yang secara eksplisit ada :

1)    Berpihak (atau keberanian menentukan sikap)
2)    Kebersamaan

Lambang dan Arti

Secara lebih jelas, uraian terkait Lambang KMPA dan Artinya dapat dilihat di Bab I ART KMPA (lebih jelasnya buka AD/ART KMPA – kalau tidak punya, bisa langsung menghubungi Pengurus). Mestinya sampai hari ini belum berubah, sebab saya belum mendengar kabar adanya perubahan lambang KMPA (lagi).

Saya hanya akan mengutip secara bebas beberapa hal yang saya anggap relevan untuk kita bahas, terutama terkait nilai, karakter, cita-cita, maupun kesadaran yang barangkali bisa menjadi pijakan sekadarnya dalam lebih memahami KMPA.

Membaca Bab I tersebut, saya menemukan dan memahami hal-hal sebagai berikut di Lambang KMPA :

1)    Lambang Inti Unsoed: menunjukkan ruang/konteks keberadaan KMPA sebagai bagian Unsoed
2)    Tiga unsur (udara, tanah, dan air): unsur penunjang kehidupan manusia, representasi paling kasar dari semesta, dan juga wahana dimana aktivitas kepecintaalaman dilakukan.
3)    Dua telapak kaki sejajar (sama tinggi): representasi petualangan dan keseimbangan
4)    Garis lingkaran hijau; siklus, kehidupan, daur ulang, sekaligus upaya mendefinisikan semesta (makrokosmos dan mikrokosmos).
5)    Kelopak bunga wijayakusuma: menjelaskan bahwa KMPA adalah ruang untuk mewadahi penggemblengan dan pengembangan manusia-manusia di dalamnya.

Kemudian pada Point 3 pasal yang sama, membahas tentang warna

a.    Orange: Ciri khas kepecintaalaman dan  civitas akademika FISIP Unsoed
b.    Biru: Ketenangan
c.    Hijau:  Konservasi atau usaha melestarikan alam.
d.    Hitam: Kearifan dari sifat, sikap dan tindakan
e.    Putih: Kesucian

Membaca penjelasan tentang Arti dan Warna Lambang, saya jadi seperti mengulang membaca Pembukaan AD/ART dan Azas KMPA. Sekadar membaca sekilas terhadap uraian arti dan warna Lambang KMPA yang ada di ART, setidaknya kita akan menemukan nilai-nilai/karakter/kesadaran/cita-cita yang tersurat, antara lain :

a.    Berkesadaran dan bertanggung jawab; Sadar posisi, sadar status, sadar peran sebagai bagian integralitas makroosmos-mikrokosmos semesta, bagian civitas akademika, bagian dari bebrayan manusia, terutama dalam konteks kelestarian alam/lingkungan (Dilambangkan dengan  udara, tanah, air, warna hijau, dan lingkaran).
b.    Berani dan Seimbang; penjelajah yang seimbang dalam pikir, dalam laku, dalam sikap (dua telapak kaki sejajar)
c.    Pembelajar;  Bagian kaum terdidik (akademika), senantiasa berproses menyempurnakan diri, menyerap segala hal, khususnya dalam wadah gemblengan KMPA (lambang Unsoed, kelopak bunga Wijayakusuma)
d.    Tenang; Dalam menghadapi dan mengatasi segala persoalan hidup yang (mungkin) ada. (Warna biru)
e.    Arif;  mengedepankan pertimbangan, bijak dan cerdas dalam ucap, sifat, sikap, dan tindakan (warna hitam)
f.    Suci dan tulus; Mengedepankan nurani  (warna putih)

Setiap masa memiliki proses dan tantangannya. Saya tak hendak menggugat penetapan arti dan lambang tersebut. Apalagi bila kita pahami bahwa dalam studi pemaknaan/tafsir, kaitan lambang dan artinya sering kali arbitrer. Misalnya, mengapa bunga wijayakusuma dijadikan lambang penggemblengan ?

Atau.. mengapa dua telapak kaki sejajar dimaknai sebagai keseimbangan ? Dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut biarlah jadi ranah para penyusun AD/ART KMPA (dulu).

Kalaulah mau berfikir nakal, bisa saja bahwa saat penyusunan AD/ART itu, para penyusunnya (yang para lulusan SMA itu) sedang teler atau sedang ektase atau apa pun. Namun pada kita, hanya teks itu yang sekarang tersisa.

Apapun namanya dan seperti apa pun wujudnya, sejauh kita menjadi bagian KMPA, maka itulah dasar hukum yang mesti dimaknai oleh manusia-manusia selanjutnya. Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 4 terbaik.

Kesimpulan Sementara

Memperhatikan Pembukaan AD/ART, Azas, serta penjelasan Lambang dan Artinya, terus terang saya merasa agak kabur (baca silau). Saya agak kewalahan menemukan terminologi yang pas untuk  mewadahi seluruh pengertian-pengertian yang ada.

Terlalu banyak hal hebat  yang coba disampaikan di aturan organisasi ini.  Kadang – sejujurnya – malah terlalu hebat menurut saya.

Namun secara garis besar dapat saya katakan, melihat pada dokumen-dokumen tersebut, tidak bisa tidak, kita akan melihat bahwa lahirnya KMPA memang lebih banyak didasari pertimbangan-pertimbangan (semangat/kesadaran) yang dominan mengarah pada ”kesadaran untuk terlibat/berpihak dan mengupayakan yang terbaik untuk alam/lingkungan”.

Atau, bolehlah disebut bahwa demi ”mengupayakan yang terbaik untuk alam/lingkungan” inilah KMPA mengada.
Apakah hal (yang saya sebut itu) itu yang dimaksud sebagai ”roh” itu ? Saya sungguh tak paham. Sebagaimana telah saya sampaikan di awal, saya tak ingin banyak menyinggung tentang roh.

Sedangkan terkait nilai-nilai (atau karakter), saya menemukan banyak sekali bertabur di dokumen-dokumen yang saya uraikan tadi. Beberapa di antaranya adalah : Berkesadaran akan Tuhan YME, Cinta (terhadap) alam, Bertanggung jawab, Tulus (Suci), Kebersamaan, Memihak (Berani bersikap), Seimbang, Tenang, serta Arif/bijak.

Daftar nilai-nilai (atau karakter) ideal itu mungkin akan bertambah banyak bila kita mau mencermati batang tubuh AD/ART (pasal dan ayat) – andai kita menganggap batang-tubuh (yang sudah beberapa kali mengalami perubahan atau penambahan) itu memang layak kita jadikan rujukan.

Pertanyaannya; Apakah kita bisa mengkristalisasikan semua yang disampaikan dalam Pembukaan AD/ART, Azas, serta Lambang dan Arti tersebut dalam sebentuk rumusan yang lebih ”padat” dan – terutama – baku terkait nilai-nilai dan karakter dasar KMPA ?  Menurut saya selalu terbuka kemungkinan untuk itu.

Bersambung untuk suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 4 padi seri kelima yang INI. Silahkan ditunggu untuk lebih jelasnya.

tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*