Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 3

Tuesday, July 4th 2017. | Pendidikan

Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 3 yang memang terus bersambung. Silahkan dibaca terlebih dahulu pada bagian satu dan bagian dua ini. Untuk dapat melanjutkan membaca pada bagian 3 ini.

Untuk sumber ’keterangan pelaku sejarah’ ini, tentu bukan tugas saya untuk menguraikan di sini, sebab saya jelas bukan ’pelaku sejarah’ itu. Dan lagi, saya tak merasa terlalu berkepentingan dengan itu semua. Biarlah pihak-pihak yang merasa berkepentingan (siapa pun itu) yang akan berinisiatif. Itu pun kalau hal ini dipandang penting.

Saya akan lebih memberikan perhatian kepada sumber kedua; dokumen tertulis. Barangkali  sekilas jadi tampak ada”kontradiksi”. Sebelumnya saya sebut bahwa dokumen tertulis itu tak ada, mengapa sekarang saya menyebut itu bisa dijadikan salah satu sumber ?

Bisa jadi saya salah. Tapi maksud saya begini. Dalam konteks  dokumentasi di KMPA, pikiran akan macet kalau hanya bersandar pada ada/tidaknya AD/ART awal. Wong memang sudah tidak ada, mau gimana ?  Tapi menurut saya, kita bisa memilih untuk memulai saja dari apa yang tersisa. Apa itu ?

Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 3

Saya akan menyampaikan setidaknya 3 hal, yaitu: Pembukaan AD/ART, 2) Azas, dan 3) Lambang Oganisasi dan Arti-nya. Pembukaan AD/ART saya pandang paling minim perubahan, sebab sedari saya terlibat di organisasi ini, rasanya tak pernah ada perubahan terkait isi Pembukaan AD/ART.

Bahkan kalau tidak salah, sampai di AD/ART terakhir yang sempat saya baca pun, ada aturan yang menyatakan bahwa Pembukaan tidak dibenarkan untuk diubah. Jadi Pembukaan AD/ART merupakan dokumen yang paling meyakinkan untuk dijadikan rujukan.

Selanjutnya adalah Azas KMPA. Walaupun mungkin pernah ada perubahan terkait azas KMPA, tapi azas adalah inti karakter sebuah organisasi. Bagaimanapun akan mustahil memahami sebuah organisasi tanpa mencoba menilik azas-nya.

Bagaimana kalau ternyata azas yang ada dan tersurat (saat ini) di Batang Tubuh ternyata tak selaras dengan ”isi” Pembukaan AD/ART ? Jawaban saya singkat saja; berarti ada PR yang harus segera dilakukan; mengoreksi azas
Terakhir adalah Lambang dan Artinya.

Terkait lambang, pernah juga ada cerita bahwa lambang juga pernah mengalami perubahan. Dan kalau lambang berubah, mestinya artinya juga mengalami perubahan.

Namun – sekali lagi – dari apa yang tersisa, menurut saya, Lambang dan Artinya tetaplah salah satu rujukan yang tak bisa diabaikan untuk bisa lebih memahami organisasi ini. Apalagi, konon, perubahan itu tak banyak; hanya ”menurunkan” letak gambar telapak kaki.

Pembukaan AD/ART

Saya akan mengutip secara utuh Pembukaan AD/ART. Karena kebetulan saya hanya memiliki file hasil RUA tahun 2007, maka saya akan mengutip Pembukaan dari AD/ART yang diputuskan di RUA tersebut :

Pembukaan

Bahwa untuk membangun masyarakat adil dan makmur, kita tidak terlepas dari alam dan menyadari bahwa alam adalah anugerah Tuhan YME, maka untuk kelestariannya perlu kita jaga dan itu merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai generasi muda Indonesia pada umumnya dan pecinta alam pada khususnya.

Menyadari arti pentingnya alam tersebut bagi kelangsungan hidup kita dan juga menyadari bahwa sesungnguhnya kepecintaalaman merupakan suatu sarana yang dapat membentuk insan-insan cinta alam dan bertanggung jawab pada alamnya, maka untuk mewujudkan cita-cita tersebut dan dari rasa kesadaran kami itu terbentuklah Korps Mahasiswa Pecinta Alam FISIP Unsoed.”

Kini, ijinkan saya agak ber-ngawur ria.

Berdasarkan pemahaman saya, teks pembukaan tersebut setidaknya menyampaikan tiga pernyataan yang mungkin bisa sedikit membantu memahami ide dasar pendirian KMPA :

1.    Pernyataan Kesadaran

”… kita tidak terlepas dari alam… menyadari bahwa alam adalah anugerah Tuhan YME… kelestariannya perlu kita jaga dan itu merupakan tanggung jawab kita bersama…”

2.    Pernyataan Cita-cita (tujuan)

”… untuk membangun masyarakat adil dan makmur… membentuk insan-insan cinta alam dan bertanggung jawab pada alamnya..”

3.    Pernyataan aksi (tindakan)

”… kepecintaalaman merupakan suatu sarana… (maka).. dari rasa kesadaran kami itu terbentuklah Korps Mahasiswa Pecinta Alam FISIP Unsoed..”

Membaca pembukaan tersebut, setidaknya kita jadi mahfum, bahwa pada dasarnya, kesadaran awal, cita-cita, sampai dengan tindakan yang dipilih (dengan mendirikan KMPA) memang selalu berpusat pada terma ”Alam”.

Barangkali yang diperlukan selanjutnya adalah penjelasan: apa yang dimaksud ”Alam” pada pernyataan-pernyataan yang ada tersebut ? Sayangnya, AD/ART tak banyak membahas itu.

Di batang tubuh AD/ART (yang sudah berubah), juga banyak disebut  tentang lingkungan. Apakah ”Alam” dan ”lingkungan” dalam aturan ini dimaknai secara sejajar/setingkat ? Entahlah.

Namun bila kita mau sedikit menyejajarkan ”alam” dengan ”lingkungan”, maka asas, visi, misi, tujuan dan banyak hal lain terkait KMPA yang diterangkan dalam Batang Tubuh AD/ART memang masih selaras dengan Pembukaan AD/ART.

Sampai di sini kita tahu, andai ada hal yang layak disebut sebagai ide dasar atau kesadaran awal (atau mungkin menurut beberapa kawan semacam ”roh” (?)) KMPA, mestinya tak terlalu jauh dari tema besar: ”Peduli pada kelestarian alam dan berpihak pada kepentingan lingkungan”.

Terus terang, saya belum menemukan sebuah rumusan yang memadai terkait hal ini, barangkali nanti akan lahir ide-ide yang lebih baik dari setiap pribadi yang ada di KMPA – selain saya. Tetap baca hingga akhir tentang suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 3 ini.

Yang menarik buat saya pribadi, adalah adanya pernyataan bahwa ”kepecintalaman merupakan sarana UNTUK MEMBENTUK insan-insan…” di Pembukaan AD/ART.

Secara khusus, insan-insan  yang disebutkan di Pembukaan AD/ART tersebut adalah generasi muda. Artinya, menurut saya, fungsi besar yang mestinya hendak disandang KMPA adalah fungsi-fungsi ”membentuk (menjadi)” yang tak mungkin dilepaskan dari aktivitas pendidikan.

Atau paling tidak, berdasarkan uraian di Pembukaan tersebut, andaipun bukan tujuan utama, ”pendidikan” (proses membentuk) ini mestinya tetaplah merupakan hal yang tak bisa diabaikan di KMPA.

Selain itu, terdapat juga penyebutan setidaknya tiga karakter (atau nilai atau prinsip) yang ditonjolkan dalam pembukaan. Karakter ini tampaknya diharapkan melekat pada organisasi atau orang-orang yang terlibat di organisasi ini. Tiga karakter itu adalah :

1)    Berkesadaran akan Tuhan YME (…alam adalah anugerah Tuhan YME…)
2)    Cinta (terhadap) alam (”…insan-insan cinta alam…”), dan
3)    Bertanggung jawab (”…dan bertanggung jawab pada alamnya..”)

Dan untuk Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 3 ini sekiranya cukup sampai di sini dulu saja ya kawan. Nanti pasti akan saya teruskan yang lebih lengkapnya. Dan klik di SINI adalah kelanjutannya pada seri ke-4. Terimakasih dan tunggu edisi berikutnya.

tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*