Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 2

Sunday, July 2nd 2017. | Pendidikan

Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 2 yang merupakan kelanjutannya dari posting artikel sebelumnya. Baca dulu kalau belum sempat pada bagian yang pertama di sini.

Saya paham, bagi beberapa orang, terasa lebay membahas persoalan-persoalan ’tak penting’ semacam ini di sebuah organisasi semacam KMPA.

Dulu saja sudah lebay, apalagi sekarang, ketika saya (pun banyak kawan lain) tak lagi banyak terlibat dalam aktivitas KMPA. Rentan melahirkan prasangka : jangan-jangan ini semacam gelaja post-power sindrome, masih ingin sok eksis, dan macam-macam sangka negatif lain.

Mungkin saja.. meski saya tak pernah melihat apa sisi positif punya power di KMPA. Tapi bisa saja ini sekadar ulah manusia yang kurang kerjaan. Yang jelas, menyangkut KMPA, kadang ada waktu ketika pikiran jadi terusik.

Sebenarnya, saya juga inginnya tak lagi banyak berpikir (apalagi berpendapat) tentang apa pun di KMPA. Pengennya ya biarkan saja. Masih banyak hal yang lebih mendesak untuk dipikirkan. Lebih-lebih di dunia riil kehidupan kita masing-masing. Lagian, besar kemungkinan tak akan terlalu banyak gunanya juga.

Paling-paling ya hanya akan berakhir tanpa hasil – seperti yang sudah-sudah. Tapi ternyata memang tak gampang berlagak tak acuh, ketika pada kenyataannya ternyata memang masih memikirkan.

Terakhir, rasa terusik itu kembali ada, ketika pada suatu hari saya membaca posting/komentar beberapa kawan di group FB KMPA.

Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 2

Isi pernyataan tersebut sedikit banyak mengingatkan pada soal nilai, sejarah, bahkan roh – walaupun mungkin kawan-kawan yang membuat pernyataan tersebut  tak pernah meniatkannya sebagai pernyatan yang mengusik.

Baiklah, kalaulah ini lebay, maka saya tetap memilih untuk jadi lebay, ketimbang diam tanpa upaya apa pun; sementara saya terlanjur merasa terusik. Sebagaimana telah diketahui, saya memilih merespon dengan memposting permintaan kepada semua kawan di Group FB KMPA.

Awalnya sekadar ingin tahu; bagaimana sebenarnya hal-hal tersebut dimaknai (dulu dan kini) di KMPA ?  Harapan saya, akan muncul pendapat, suara dari beragam kepala, beragam angkatan Diksar, beragam generasi.

Dengan begitu, siapa tahu nantinya  bisa saya gunakan untuk sekadar menarik pemahaman umum tentang bagaimana hal-hal semacam nilai, karakter, sejarah, dan roh KMPA ini dimaknai di organisasi ini.

Selain rasa ingin tahu dan harapan, sebagaimana telah saya sebutkan di awal, alasan lainnya adalah rasa tak puas. Mungkin juga kejengkelan. Bukan apa-apa. Kita terlanjur terbiasa melempar soal, tanpa upaya penyelesaian. Melontarkan ide, gagasan, pernyataan, tanpa terlatih memberikan argumentasi ataupun penjelasan.

Yang kemudian tampak sering terjadi adalah; sekadar lontaran-lontaran terminologi tanpa arti, dan lebih sering meneror.

*****
Atas permintaan saya di group, beberapa kawan memberi respon (berkomentar). Saya sangat menghargai dan berterima kasih atas hal itu. Semua pernyataan yang ada memiliki nilai dan gunanya masing-masing (lebih lengkap terkait posting dan komentar bisa disimak di group FB KMPA). Sayangnya, memang tak banyak.

Terakhir, obrolan tersendat. Sebagian kawan berpendapat bahwa hal semacam ini tidak memungkinkan dibahas di ruang diskusi  group FB. Akan lebih efektif bila ada pertemuan (fisik) atau forum khusus. Sementara yang lain menyebut, perlu menyimak dokumen-dokumen sumbernya atau dengan kata lain perlu adanya AD/ART sejak dari generasi pertama.

Pertimbangan-pertimbangan ini sangat logis. Mestinya memang begitu. Tapi menurut saya susah direalisasikan, terutama saat ini. Pertama, dokumen-dokumen awal, yang otentik, susah didapatkan. Kedua, kurang praktis mengingat energi, waktu, finansial, dan lain sebagainya.

Ketiga, saya sendiri pesimis dengan antusiasme yang ada (berapa orang sih yang menganggap penting hal-hal semacam ini ?).

Mengingat tiga alasan (yang jelas sangat subjektif) tersebut, saya berpikir, opsi untuk tetap melanjutkan obrolan via jejaring/internet memang masih yang paling rasional. Setidaknya untuk saat ini. Inilah Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 2 yang dapat Anda baca.

Karena menyadari bahwa menuangkan ide di komentar ataupun status di FB memang sangat terbatas, maka saya pikir menuangkan ide dalam wujud tulisan (yang lebih panjang) adalah opsi yang logis.

*****

Kembali kepada obrolan tentang ”roh” di group FB…
Dari semua respon (komentar) yang ada di FB, saya kira ada setidaknya dua pendapat  yang saya nilai penting perlu saya kutip di sini :

Pendapat Bang Ginting (Satria Ginting) :

”Berbicara tentang roh, dibenakku dulu cuma berpikir punya sebuah “kelompok bermain” yang “EGALITER”. Dalam ke”egaliter”annya dia juga harus solid dan militan. Dulu aku berpikir dan berharap “EGALITERIANISME” menjadi nafas KMPA.”

Pendapat Kang Lukman (Lukman Hidayat) :

”…apa yang kita sama-sama sebut sebagai roh KMPA, sesungguhnya adalah asas organisasi. Dia energi terakbar yang menggerakkan seluruh kerja organisasi, termasuk juga bangunan/tata hukumnya…

Asas itu adalah “konservasi” (sebagaimana jelas tercantum di AD/ART KMPA kita). Adapun manifestasi konservasi, sebagaimana sahabat-sahabat tahu, di dalamnya terdapat :

1) kepedulian dan keberpihakan thd alam dan lingkunganya (aspek afektif yg hrs dibentukkan disetiap diri anggota), 2) pergerakan dengan dilandasi pemikiran yg konseptual (upaya praksis dg dukungan aspek kognitif anggota) serta 3) solidaritas dan kerjasama sebagai sarana untuk menuju terciptanya asas konservasi yg kita anggap terideal…”

Sayangnya, uraian di komentar FB oleh kedua ALB tersebut memang terlalu terbatas. Tak memadai untuk menguraikan sebuah ide agar lebih mudah dipahami/didalami. Tapi dari yang terbatas itu,  saya setidaknya mencatat hal-hal berikut :

Dari Bang Ginting. Salah satu aspek penting di KMPA adalah : egaliter/egalitarianisme.

Dari Kang Lukman. Roh KMPA adalah asas organisasi, yang adalah Konservasi (alam/lingkungan). Roh ini termanivestasikan/mewujud pada tiga hal :

1) Kepedulian dan keberpihakan pada lingkungan,
2) Pergerakan berlandaskan pemikiran,
3) Solidaritas.

Beberapa hal yang disampaikan oleh dua ALB ini nanti akan lebih banyak saya bahas dalam bagian lain tulisan ini. Suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 2 dan part 1 sudah dapat Anda baca lengkap.

Dari yang Tersisa

Dari manakah kita mesti memulai memahami ”hal-hal awal KMPA” ? Mungkinkah mempelajari segala hal yang berbau muasal,  sementara nyaris tak ada pijakan yang memudahkan untuk kembali ke masa itu ?

Agak rumit memang. Bila ingin mencari apa yang identik dengan muasal, mestinya kita merujuk pada dokumen-dokumen sumber ketika sejarah dimulai. Syukur menemukan dokumen otentiknya. Sayangnya kita tak bisa menemukan hal semacam itu di KMPA.

Dokumen awal itu terlanjur susah ditemukan. Jadi untuk memudahkan, kita ambil saja asumsi terburuk; dokumen awal itu sudah musnah.

Tapi sebenarnya, menurut saya ada beberapa sumber yang masih mungkin ditilik, bila kita ingin mengetahui hal-hal di masa lalu itu. Meskipun mungkin bukan sumber yang pasti benar, tapi setidaknya akan mempermudah usaha. Sumber-sumber yang saya maksud itu adalah :

1. Keterangan pelaku sejarah
2. Dokumen tertulis

Dalam hal keterangan pelaku sejarah, pasti lebih mudah dipahami. Karena usia organisasinya masih muda, maka generasi para pendirinya juga memungkinkan masih ada. Jadi keterangan pelaku sejarah ini masih mungkin diupayakan – asal ada kemauan.

Terkait keterangan pelaku sejarah, masalah yang mungkin muncul nanti adalah biasnya informasi. Setidaknya, pasti akan ada beda pendapat/ingatan antara satu kepala dengan kepala lain (meski segenerasi sekalipun).

Tapi tak masalah, kita bisa menggunakan klausul pembenar yang sering digunakan orang-orang ilmu sosial; objektivitas adalah subjektivitas yang diamini bersama. Jadi, semakin banyak sumber akan semakin baik, karena mekanisme saling-koreksi akan relatif lebih mungkin dijalankan.

Sekian informasi tentang suara sekadarnya tentang KMPA UNSOED part 2, untuk bagian tiga silahkan tunggu beberapa saat lagi atau klik INI. Tetap dan hanya di blog keguruan ini. Terimakasih.

tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*